3 mins read

Menteri Kebudayaan Dorong Penulisan Sejarah sebagai Pondasi Identitas Bangsa

Menteri Kebudayaan dorong penulisan sejarah

Jakarta (initogel) — Sejarah tidak hanya hidup di ruang arsip atau lembar buku pelajaran. Ia hadir dalam ingatan kolektif, percakapan keluarga, dan jejak budaya yang diwariskan lintas generasi. Kesadaran inilah yang kembali ditegaskan Fadli Zon, yang mendorong penguatan penulisan sejarah Indonesia agar lebih utuh, inklusif, dan relevan dengan generasi masa kini.

Bagi Kementerian Kebudayaan, penulisan sejarah bukan sekadar kerja akademik. Ia adalah upaya merawat identitas bangsa—agar masa lalu tidak hilang, dan masa depan memiliki pijakan yang kokoh.

Sejarah sebagai Cermin dan Penuntun

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Kebudayaan menekankan bahwa sejarah berfungsi ganda: sebagai cermin untuk bercermin diri, dan sebagai penuntun arah ke depan. Penulisan sejarah yang baik membantu masyarakat memahami perjalanan bangsa, termasuk dinamika sosial, budaya, dan politik yang membentuk Indonesia hari ini.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang memahami sejarahnya,” ujar Menteri Kebudayaan. “Bukan untuk mengagungkan masa lalu, tetapi untuk belajar darinya.”

Dorongan ini ditujukan kepada sejarawan, akademisi, peneliti, hingga komunitas budaya di daerah—mereka yang selama ini menjaga potongan-potongan kisah lokal yang sering luput dari narasi besar.

Ruang bagi Sejarah Lokal dan Suara Pinggiran

Salah satu penekanan penting adalah perlunya membuka ruang bagi sejarah lokal dan perspektif yang beragam. Indonesia tidak dibentuk oleh satu cerita tunggal, melainkan oleh ribuan pengalaman masyarakat di berbagai wilayah.

Penulisan sejarah yang inklusif diharapkan mampu mengangkat kisah-kisah dari daerah, komunitas adat, serta tokoh-tokoh lokal yang kontribusinya kerap terpinggirkan.

“Setiap daerah punya cerita,” kata seorang pegiat budaya. “Jika dikumpulkan, itulah mozaik Indonesia.”

Menjembatani Akademik dan Publik

Menteri Kebudayaan juga menyoroti pentingnya menjembatani dunia akademik dengan publik luas. Sejarah tidak harus disampaikan dengan bahasa yang rumit dan eksklusif. Ia bisa dihadirkan melalui buku populer, film dokumenter, pameran, hingga platform digital.

Generasi muda, yang tumbuh di era visual dan serba cepat, perlu didekati dengan cara-cara kreatif agar sejarah terasa dekat dan bermakna.

“Sejarah harus bisa dibaca, ditonton, dan dirasakan,” ujar seorang pendidik. “Bukan hanya dihafal.”

Arsip, Data, dan Tanggung Jawab Ilmiah

Dorongan penulisan sejarah juga dibarengi dengan pesan tentang tanggung jawab ilmiah. Penggunaan arsip, sumber primer, dan metode penelitian yang ketat tetap menjadi fondasi utama. Di tengah derasnya informasi dan opini, sejarah harus berdiri di atas data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pemerintah mendorong penguatan ekosistem arsip dan riset agar para penulis sejarah memiliki akses yang lebih baik terhadap sumber-sumber penting.

Sejarah dan Persatuan

Di tengah keberagaman Indonesia, sejarah memiliki peran strategis dalam merawat persatuan. Narasi yang adil dan seimbang membantu masyarakat memahami perbedaan tanpa terjebak pada konflik masa lalu.

Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa penulisan sejarah harus menjunjung semangat kebangsaan, tanpa menutup mata terhadap fakta dan dinamika yang pernah terjadi.

“Kejujuran sejarah justru memperkuat persatuan,” tegasnya.

Menulis untuk Masa Depan

Dorongan penulisan sejarah ini bukan hanya tentang mengisi rak buku. Ia adalah investasi jangka panjang—untuk pendidikan, kebudayaan, dan karakter bangsa. Setiap naskah sejarah yang ditulis dengan baik menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

Di ruang kelas, perpustakaan, dan komunitas budaya, upaya ini diharapkan menumbuhkan minat baru terhadap sejarah Indonesia—sejarah yang hidup, bernapas, dan terus ditulis.

Karena pada akhirnya, sejarah bukan milik masa lalu semata. Ia adalah cerita tentang siapa kita hari ini, dan ke mana kita ingin melangkah esok hari.